Surakarta, IDN Times – Sebanyak 175 siswa SMAN 6 Kota Solo, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 21 Agustus 2026.
175 Siswa SMAN 6 Solo Diduga Keracunan MBG, SPPG Dihentikan

- Sebanyak 175 siswa SMAN 6 Solo diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis pada 21 Agustus 2026; distribusi dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium.
- SPPG pemasok makanan untuk SMAN 6 Solo disuspend, diperiksa Satgas MBG, dibina, dan menerima surat teguran dari Pemkot Solo terkait pengelolaan makanan.
- Pemkot Solo memperketat pengawasan bersama BGN, Dinas Kesehatan, sekolah, dan pengelola SPPG untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, serta kelayakan makanan bagi siswa.
Pihak sekolah kemudian menghentikan sementara distribusi MBG kepada para siswa hingga hasil pemeriksaan sampel makanan dari laboratorium keluar. Pemerintah Kota Solo juga memperketat pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pemasok makanan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono, mengatakan Satuan Tugas (Satgas) MBG telah melakukan pengecekan langsung ke dapur SPPG yang memasok makanan ke SMAN 6 Solo.
Table of Content
1. Siswa mengalami sakit perut mual dan muntah

Ilustrasi MBG. (IDNTimes/Tunggul Damarjat) Kepala SMAN 6 Surakarta, Santoso, menjelaskan bahwa laporan awal diterima pihak sekolah pada hari Sabtu, tanggal 22, di mana ada satu anak yang mengeluh sakit perut melalui pesan WhatsApp. Karena laporan saat itu hanya berasal dari satu orang, pihak sekolah mulanya menganggap hal tersebut sebagai sakit biasa.
Namun, situasi mulai mencurigakan pada Senin pagi, tanggal 24 Agustus. Berdasarkan sistem pendataan sekolah, tercatat ada 131 siswa yang tidak masuk dengan alasan izin sakit. Pihak sekolah kemudian menginstruksikan para wali kelas untuk mendata secara rinci siswa yang absen dengan keluhan spesifik seperti sakit perut, mual, muntah, dan diare.
"Akhirnya dari situ kita dapatkan data sebanyak 175 siswa yang mengalami gejala sakit perut, mual, muntah, bahkan sampai diare," ungkap Santoso. Beberapa siswa di antaranya sempat dibawa ke klinik atau puskesmas untuk mendapatkan pertolongan pertama, meski dipastikan tidak ada yang sampai harus menjalani rawat inap (opname).
2. Menunggu hasil Lab

Ilustrasi MBG ya g dibagikan pemerintah. (Dok. Istimewa) Mengingat libur akhir pekan pada hari Sabtu dan Minggu serta tanggal merah pada hari Selasa, pemantauan kondisi sempat mengalami kendala. Dari hasil penelusuran internal, tidak ada kegiatan lain ataupun konsumsi makanan bersama di sekolah selain jatah program MBG. Kecurigaan para siswa lantas mengerucut pada salah satu menu, yakni galantin.
Kendati demikian, pihak sekolah belum berani menyimpulkan secara gegabah. Menurut Santoso, beberapa anak sempat menyebut bahwa menu galantin tersebut terasa hambar, namun hal tersebut bersifat relatif. Terlebih lagi, penyedia makanan yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengirimkan jatah ke beberapa sekolah lain yang dilaporkan tidak mengalami masalah serupa.
Pihak SPPG disebut telah mendatangi sekolah untuk meminta maaf serta berkoordinasi terkait pemeriksaan sampel makanan ke laboratorium. Tim dari Satgas MBG Kota Surakarta juga telah mendatunjungi sekolah pada hari Rabu, tanggal 26, untuk melakukan dialog serta mewawancarai siswa yang terdampak.
Sejak hari Rabu, 26 Agustus tersebut, pihak SMAN 6 Surakarta telah menghentikan pengiriman jatah MBG. Sekolah menegaskan tidak akan menerima kembali distribusi makanan tersebut sebelum ada kejelasan berupa hasil uji laboratorium dan investigasi resmi secara tertulis dari pihak berwenang.
"Mohon maaf selama belum ada hasil uji labnya seperti apa, hasil investigasi seperti apa, kami tidak berani. Yang penting ada orek-orkkan hitam di atas putih dari pihak yang berwenang, nanti baru kami akan berani melangkah," tegas Santoso Rabu (3/9/2026). Mengingat jumlah siswa yang mencapai sekitar 1.200 orang, pihak sekolah harus berhati-hati demi keamanan bersama.
Saat ini, kondisi kegiatan belajar mengajar di SMAN 6 Surakarta dilaporkan telah kembali normal dan para siswa yang sempat sakit sudah masuk seperti biasa. Rencana kerja sama dengan Dinas Kesehatan juga akan ditempuh untuk memeriksa kondisi kantin sekolah secara berkala.
3. SPPG pemasok MBG ke SMAN 6 Solo disuspend

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono. (IDN Times/Dhana Kencana) Budi mengatakan, SPPG yang memasok MBG ke SMAN 6 Solo saat ini telah dikenai suspend. Pemeriksaan terhadap sampel makanan juga masih dilakukan untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut.
“Hasil lab-nya saya belum dapat laporan ya, tapi kemarin Satgas sudah ke lokasi. Kita sudah cek dan melakukan pembinaan kepada dapur tersebut,” kata Budi saat ditemui di Balai Kota Solo, Rabu (2/9/2026).
Selain memberikan pembinaan, Pemkot Solo juga telah memberikan surat teguran kepada pengelola dapur SPPG agar memperbaiki pengelolaan makanan dalam program MBG.
“Kita sudah buatkan surat teguran ke mereka supaya baik dalam pengelolaan MBG di tempat mereka,” ujarnya.
4. Pemkot Solo perketat pengawasan dapur SPPG

Siswa bersiap menyantap makanan saat pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana di SMP Negeri 2 Tabanan, Desa Delod Peken, Tabanan, Bali, Kamis (21/8/2025). (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo) Budi menegaskan, kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi seluruh pengelola SPPG di Kota Solo. Mereka diminta lebih berhati-hati dalam seluruh tahapan pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan hingga makanan disajikan kepada penerima manfaat.
Menurutnya, aspek kebersihan dan higienitas harus menjadi perhatian utama untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
“Ini harus menjadi pembelajaran bagi seluruh pengelola SPPG Kota Solo agar semakin berhati-hati dalam memilih, membersihkan, mengolah, menyimpan, dan menyajikan bahan makanan kepada penerima manfaat,” jelasnya.
5. Pengawasan melibatkan BGN hingga pihak sekolah

Ilustrasi Pelakasanaan MBG di SD Pranan 1 Sukoharjo. (IDN Times/Larasati Rey) Pemkot Solo juga terus memperkuat pengawasan pelaksanaan program MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan, pihak sekolah, dan pengelola SPPG.
Pengawasan dilakukan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada siswa memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, serta layak dikonsumsi.
Sementara itu, Pemkot Solo masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan yang dialami para siswa SMAN 6 Solo.




















