Ilustrasi MBG ya g dibagikan pemerintah. (Dok. Istimewa)
Mengingat libur akhir pekan pada hari Sabtu dan Minggu serta tanggal merah pada hari Selasa, pemantauan kondisi sempat mengalami kendala. Dari hasil penelusuran internal, tidak ada kegiatan lain ataupun konsumsi makanan bersama di sekolah selain jatah program MBG. Kecurigaan para siswa lantas mengerucut pada salah satu menu, yakni galantin.
Kendati demikian, pihak sekolah belum berani menyimpulkan secara gegabah. Menurut Santoso, beberapa anak sempat menyebut bahwa menu galantin tersebut terasa hambar, namun hal tersebut bersifat relatif. Terlebih lagi, penyedia makanan yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengirimkan jatah ke beberapa sekolah lain yang dilaporkan tidak mengalami masalah serupa.
Pihak SPPG disebut telah mendatangi sekolah untuk meminta maaf serta berkoordinasi terkait pemeriksaan sampel makanan ke laboratorium. Tim dari Satgas MBG Kota Surakarta juga telah mendatunjungi sekolah pada hari Rabu, tanggal 26, untuk melakukan dialog serta mewawancarai siswa yang terdampak.
Sejak hari Rabu, 26 Agustus tersebut, pihak SMAN 6 Surakarta telah menghentikan pengiriman jatah MBG. Sekolah menegaskan tidak akan menerima kembali distribusi makanan tersebut sebelum ada kejelasan berupa hasil uji laboratorium dan investigasi resmi secara tertulis dari pihak berwenang.
"Mohon maaf selama belum ada hasil uji labnya seperti apa, hasil investigasi seperti apa, kami tidak berani. Yang penting ada orek-orkkan hitam di atas putih dari pihak yang berwenang, nanti baru kami akan berani melangkah," tegas Santoso Rabu (3/9/2026). Mengingat jumlah siswa yang mencapai sekitar 1.200 orang, pihak sekolah harus berhati-hati demi keamanan bersama.
Saat ini, kondisi kegiatan belajar mengajar di SMAN 6 Surakarta dilaporkan telah kembali normal dan para siswa yang sempat sakit sudah masuk seperti biasa. Rencana kerja sama dengan Dinas Kesehatan juga akan ditempuh untuk memeriksa kondisi kantin sekolah secara berkala.