Bagi kebanyakan anak muda yang tumbuh di perkotaan, nasi adalah santapan serba praktis. Untuk memasaknya, mereka hanya perlu menekan tombol pada penanak elektrik dan menunggu matang. Jarang terlintas di benak mereka mengenai proses panjang di balik butiran putih tersebut—mulai dari peluh petani yang merawat padi berbulan-bulan, bisingnya mesin di pabrik penggilingan, hingga upaya negara memastikan beras selalu tersedia dengan harga terjangkau.
Namun, pemahaman sederhana itu perlahan berubah pada Selasa (21/4/2026).
Tepat pada peringatan Hari Kartini, puluhan pelajar berseragam putih abu-abu dari SMA Negeri 1 Semarang mengunjungi Sentra Penggilingan Padi (SPP) dan gudang milik Perum BULOG di Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Begitu melangkah masuk ke area pabrik yang berlokasi di Bugel Wetan, Desa Pucangrejo, Kecamatan Gemuh, mereka langsung disambut deru mesin husker (pemecah kulit gabah) berkapasitas 6 ton per jam dan aroma khas sekam yang tercium jelas.
Hari itu, mereka tidak sedang menjalani kegiatan wisata sekolah biasa. Para siswa diajak mengamati dari dekat tahapan pengolahan gabah yang baru dipanen dari hamparan sawah, hingga wujudnya berubah menjadi beras bersih yang siap dimasak.
“Selama ini kami hanya belajar dari buku pelajaran di sekolah. Kami tidak pernah menyangka kalau proses mengolah beras itu ternyata sangat panjang dan melibatkan mesin sebesar ini,” kata salah satu siswi Kelas X SMAN 1 Semarang, Jessica, yang matanya tak lepas memperhatikan aliran beras di atas konveyor.
Pengalaman nyata yang disaksikan Jessica dan kawan-kawannya itu merupakan bagian dari program Eduwisata Pangan yang dijalankan oleh BULOG mulai April 2026. Program tersebut dirancang strategis untuk menyentuh berbagai tingkatan pendidikan.
Benar saja, tiga hari berselang, tepatnya pada Jumat (24/4/2026), rombongan berbeda mendatangi Gudang BULOG Sokokulon di Kabupaten Pati. Waktu itu, pesertanya adalah 23 siswa dari SMK Negeri Jawa Tengah jurusan Agribisnis dan Pengolahan Hasil Pertanian (APHP).
Jika bagi pelajar SMAN 1 Semarang kunjungan tersebut membuka wawasan soal proses ketersediaan pangan, bagi siswa-siswi SMK, lorong fasilitas logistik itu menjadi cerminan langsung dari dunia kerja yang akan mereka jalani kelak.
Keseriusan itu langsung terasa begitu mereka melangkah masuk ke dalam bangunan di Jalan Raya Pati-Kudus Kilometer 5, Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo, yang udaranya dijaga tetap sejuk. Di hadapan karung-karung beras yang ditumpuk presisi, Maulida Nia Sinta, salah satu siswi SMK, tampak sibuk mencatat. Matanya teliti mengamati fungsi deretan palet kayu yang dijadikan alas penyangga agar beras tidak bersentuhan langsung dengan lantai.
“Di sekolah, kami belajar teori tentang tata cara menyusun barang dan mengatur sirkulasi udara. Di sini, kami mempraktikkannya. Kami juga diajari menggunakan alat pengukur kelembapan agar kualitas beras tidak turun atau diserang kutu,” cerita Maulida antusias.
Bagi Maulida dan rekan satu jurusannya, memegang alat grain moisture tester (pengukur kadar air) dan membedakan butiran beras utuh dengan yang patah memberikan pemahaman konkret. Yakni, mereka melihat langsung standar kualitas ketat yang diterapkan oleh Perum BULOG.
