Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mahasiswa Undip Bikin Perangkap Hama Pintar Berbasis AI Tenaga Surya
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IDBU Tim 21 Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan prototipe smart light trap bertenaga surya untuk membantu petani mengendalikan hama secara lebih efektif di Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung. (dok. Undip)
  • Mahasiswa KKN Undip mengembangkan prototipe smart light trap tenaga surya untuk membantu pengendalian hama di Desa Campuranom, Temanggung.
  • Perangkat dilengkapi solar tracker, sensor, blower otomatis, dan AI untuk mengidentifikasi serangga tertangkap serta memberi rekomendasi awal pengendalian.
  • Inovasi ini menjadi program awal Masterplan Campuranom 2027–2034, yang menargetkan desa wisata pertanian berbasis teknologi, regeneratif, dan berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu

Nicholaus Ferdinand menjelaskan smart light trap bertenaga surya dikembangkan dari nol dengan solar tracker, sensor, blower otomatis, dan modul AI untuk identifikasi hama.

2027–2034

Masterplan Desa Campuranom disusun sebagai arah pembangunan berbasis pertanian regeneratif, ekonomi sirkular, teknologi, dan keberlanjutan lingkungan.

2034

Desa Campuranom ditargetkan berkembang menjadi desa wisata pertanian berbasis teknologi yang tetap menjaga kelestarian alam dan identitas agrarisnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Mahasiswa Undip mengembangkan prototipe smart light trap bertenaga surya berbasis AI untuk menangkap, mengidentifikasi serangga hama, dan memberi rekomendasi awal pengendalian.
  • Who?
    30 mahasiswa KKN-IDBU Tim 21 Universitas Diponegoro, dipimpin pengembang alat Nicholaus Ferdinand, mendampingi Pemerintah Desa Campuranom. Ardy Wibowo menjadi ketua dosen pendamping.
  • Where?
    Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
  • When?
    Pengembangan alat disampaikan Nicholaus Ferdinand pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Program ini terkait penyusunan Masterplan Desa Campuranom 2027–2034.
  • Why?
    Alat dikembangkan untuk membantu petani mengendalikan hama lebih efektif, mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, dan mendukung pertanian ramah lingkungan.
  • How?
    Panel surya dengan solar tracker memasok energi. Sensor mendeteksi serangga di dekat cahaya, lalu blower mengarahkannya ke wadah. Modul AI dirancang mengenali jenis serangga dan memberi rekomendasi pengendalian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mahasiswa Undip membuat alat pintar untuk menangkap hama di Desa Campuranom, Temanggung. Alat ini pakai cahaya, matahari, sensor, dan kipas. Kalau ada serangga, kipas memasukkannya ke wadah. AI juga membantu petani tahu jenis hama. Sekarang alat ini jadi bagian rencana desa sampai tahun 2034.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Inovasi smart light trap menunjukkan kolaborasi mahasiswa dan desa yang menggabungkan teknologi dengan kebutuhan pertanian setempat. Tenaga surya, sensor otomatis, dan AI dirancang untuk membantu petani mengenali hama serta menentukan pengendalian awal yang lebih tepat, sejalan dengan arah pembangunan Campuranom yang regeneratif dan berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Temanggung, IDN Times – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IDBU Tim 21 Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan prototipe smart light trap bertenaga surya. Inovasi ini untuk membantu petani mengendalikan hama secara lebih efektif di Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung.

1. Sesuai arah pembangunan desa berbasis pertanian regeneratif

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IDBU Tim 21 Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan prototipe smart light trap bertenaga surya untuk membantu petani mengendalikan hama secara lebih efektif di Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung. (dok. Undip)

Inovasi tersebut menjadi bagian dari penyusunan Masterplan Desa Campuranom 2027–2034 yang dirancang sebagai arah pembangunan desa berbasis pertanian regeneratif, ekonomi sirkular, teknologi, dan keberlanjutan lingkungan.

Sebanyak 30 mahasiswa lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam KKN-IDBU Tim 21 mendampingi pemerintah desa menyusun peta jalan pembangunan jangka panjang dengan visi menjadikan Campuranom sebagai desa wisata pertanian berbasis teknologi yang regeneratif dan berkelanjutan pada 2034.

Penanggung jawab pengembangan alat, Nicholaus Ferdinand menjelaskan, bahwa smart light trap yang dikembangkan tidak hanya berfungsi menangkap serangga hama seperti perangkap cahaya konvensional, tetapi juga dilengkapi sejumlah teknologi pendukung.

Salah satunya adalah sistem solar tracker yang memungkinkan panel surya mengikuti arah pergerakan matahari sehingga penyerapan energi menjadi lebih optimal.

Selain itu, alat juga dibekali sensor dan blower otomatis. Ketika sensor mendeteksi keberadaan serangga di sekitar sumber cahaya, blower akan menyala dan mengarahkan hama ke dalam wadah penampungan.

2. Dilengkapi teknologi AI untuk identifikasi hama

ilustrasi hama tanaman cabai (pexels.com/Santosh Maharjan)

“Alat ini kami susun dari nol, mulai dari penyusunan konsep, pemilihan komponen, perancangan sistem energi, sensor dan blower, hingga pembuatan struktur alat. Kami menambahkan beberapa inovasi agar light trap lebih adaptif terhadap kondisi lahan, mudah dipindahkan, hemat energi, dan lebih praktis digunakan oleh petani,” kata Nicholaus, Sabtu (8/8/2026).

Keunggulan lain dari alat tersebut adalah adanya modul pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Teknologi ini dirancang untuk membantu petani mengenali jenis serangga yang tertangkap sekaligus memberikan rekomendasi awal metode pengendalian yang sesuai.

Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya menangkap hama, tetapi juga memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengendalian yang lebih tepat.

Tim KKN berharap pemanfaatan alat tersebut mampu membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

3. Menjadi bagian dari masterplan pembangunan desa hingga 2034

Seorang petani merapihkan padi sebelum disemai di lahan sawah garapannya. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Ketua dosen pendamping KKN-IDBU Tim 21 Undip, Ardy Wibowo, Ph.D., mengatakan, pengembangan smart light trap merupakan salah satu program awal dalam implementasi masterplan desa yang sedang disusun.

Menurutnya, dokumen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai rencana pembangunan, tetapi juga menjadi panduan bagi pemerintah desa dalam menentukan prioritas program secara berkelanjutan.

“Masterplan ini diharapkan dapat membantu pemerintah desa menentukan arah dan prioritas pembangunan berdasarkan potensi serta kebutuhan masyarakat. Prinsip regeneratif, sirkular, dan berkelanjutan menjadi dasar agar pembangunan tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat sektor pertanian, dan meningkatkan kapasitas masyarakat,” ujarnya.

Masterplan Campuranom disusun berdasarkan lima pilar utama, yakni pertanian regeneratif, pengelolaan limbah dan biomassa, penguatan sistem air dan irigasi, pengembangan energi bersih desa, serta hilirisasi produk pertanian dan penguatan ekonomi lokal.

4. Buka peluang pengembangan produk pertanian

Petani saat melakukan pemupukan tanaman padi (IDN Times/Ruhaili)

Kepala Desa Campuranom, Wirawan, menyambut baik penyusunan masterplan sekaligus inovasi teknologi yang dikembangkan mahasiswa Undip. Ia berharap dokumen tersebut dapat menjadi pedoman pembangunan yang realistis dan dapat dijalankan secara bertahap hingga 2034.

“Harapan kami, pada 2034 Desa Campuranom dapat berkembang menjadi desa wisata pertanian berbasis teknologi yang tetap menjaga kelestarian alam dan identitas desa sebagai wilayah agraris. Masterplan ini dapat menjadi panduan agar pembangunan berjalan terarah, bertahap, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Selain mendukung pengendalian hama, program tersebut juga diharapkan membuka peluang pengembangan produk pertanian bernilai tambah, memperkuat ekonomi desa, serta menjadi model pendampingan bagi desa-desa agraris lainnya di Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article