Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nasi Timbel Mang Uha, Menjaga Autentisitas Rasa Sukabumi di Solo Baru

Kota Surakarta
Nasi Timbel Mang Uha, Menjaga Autentisitas Rasa Sukabumi di Solo Baru
Nasi Timbel Mang Uha di Solo Baru. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Nasi Timbel Mang Uha di Solo Baru menghadirkan kuliner Sunda autentik Sukabumi, berakar dari kenangan Mang Uha menyiapkan bekal nasi daun pisang bersama keluarganya di ladang.
  • Setelah usaha di Jakarta yang dibuka pada 2009 sempat terhenti, Mang Uha membangun kembali bisnis di Solo dengan dukungan Teh Nia untuk lokasi, perizinan, promosi, dan modal.
  • Menu andalan mencakup nasi timbel daun pisang dengan lauk, sambal, lalapan, dan sayur asem; ayam bumbu ketumbar favorit pelanggan. Paket makan dibanderol mulai Rp25 ribu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sukoharjo, IDN Times - Kuliner khas Sunda tak hanya bisa ditemukan di Jawa Barat. Di tengah pesatnya perkembangan Solo Baru, Sukoharjo, hadir Nasi Timbel Mang Uha yang membawa cita rasa autentik Sukabumi ke Solo Raya.

Dibungkus daun pisang, nasi pulen disajikan bersama lauk, sambal, lalapan, dan sayur asem. Sajian sederhana tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta kuliner yang ingin menikmati masakan Sunda dengan cita rasa yang tetap dipertahankan seperti asalnya.

Aa Roni, keponakan sekaligus pengelola Nasi Timbel Mang Uha Solo Baru, mengatakan usaha tersebut berangkat dari kenangan masa kecil sang paman, Mang Uha, di Sukabumi, Jawa Barat.

  1. 1. Berawal dari Bekal Orang Tua di Ladang.

    IMG_1024.jpeg
    Nasi Timbel Mang Uha di Solo Baru. (IDN Times/Larasati Rey)

    Sejak kecil, Mang Uha terbiasa membantu kedua orang tuanya menyiapkan bekal untuk bekerja di ladang. Setiap pagi, nasi hangat dibungkus menggunakan daun pisang, kemudian dilengkapi lauk sederhana, lalapan, dan sambal.

    Kebiasaan tersebut kemudian membentuk kecintaan Mang Uha terhadap kuliner khas Sunda. Baginya, nasi timbel bukan sekadar makanan, tetapi juga menyimpan cerita tentang keluarga.

    “Dari situlah Paman Uha belajar bahwa makanan bukan hanya soal mengenyangkan, tetapi juga bentuk kasih sayang dan perhatian kepada keluarga,” kata Aa Roni kepada IDN Times, Kamis (20/8/2026).

    Berbekal pengalaman tersebut, Mang Uha memberanikan diri membuka usaha Nasi Timbel Mang Uha di Jakarta pada 2009. Namun perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus.

    Usahanya sempat berhenti akibat kerja sama yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Alih-alih menyerah, Mang Uha menggunakan masa tersebut untuk memperdalam pengetahuan tentang bisnis, mulai dari manajemen operasional, pengelolaan dapur, penataan area persiapan, penggunaan peralatan hingga pengelolaan keuangan.

  2. 2. Membawa Rasa Sukabumi ke Solo Baru.

    IMG_0981.jpeg
    Nasi Timbel Mang Uha di Solo Baru. (IDN Times/Larasati Rey)

    Kesempatan untuk kembali membangun usaha datang ketika perjalanan Mang Uha membawanya ke Solo. Di kota ini, ia secara tidak sengaja kembali bertemu dengan salah satu pelanggan setianya ketika masih berjualan di Jakarta, Teh Nia.

    Perempuan asal Sukabumi tersebut sebelumnya pernah merantau dan berkarier di Jakarta sebelum akhirnya hijrah ke Solo bersama suaminya.

    Melihat perkembangan Solo Baru yang semakin pesat, Teh Nia melihat peluang untuk menghadirkan kuliner Sunda yang autentik. Menurutnya, masyarakat Solo Raya cukup terbuka terhadap beragam kuliner Nusantara, sementara pilihan masakan Sunda yang benar-benar mempertahankan cita rasa asal masih belum terlalu banyak.

    Teh Nia kemudian turut membantu Mang Uha mencari lokasi usaha, mengurus proses perizinan, memperkenalkan produk kepada masyarakat hingga memberikan dukungan permodalan.

    “Teh Nia adalah salah satu orang yang kembali membuat Paman Uha percaya bahwa mimpi ini masih layak untuk diperjuangkan,” ujar Aa Roni.

    Bagi Mang Uha, berdirinya kembali usaha tersebut bukan sekadar membuka rumah makan. Momentum itu menjadi kesempatan untuk memulai kembali dengan pengalaman yang lebih matang.

  3. 3. Nasi Timbel Daun Pisang hingga Ayam Bumbu Ketumbar

    IMG_0980.jpeg
    Nasi Timbel Mang Uha di Solo Baru. (IDN Times/Larasati Rey)

    Keautentikan menjadi salah satu hal yang terus dijaga Nasi Timbel Mang Uha. Nasi pulen dibungkus dengan daun pisang sehingga menghasilkan aroma khas yang semakin menggugah selera.

    Sajian tersebut kemudian dilengkapi berbagai pilihan lauk, mulai dari ayam, ikan laut, kakap, bebek hingga empal. Ada pula ikan asin jambal, karedok, lalapan, sambal, serta sayur asem yang semakin memperkuat karakter masakan Sunda.

    Salah satu menu yang menjadi favorit pelanggan adalah ayam bumbu ketumbar. Perpaduan bumbu rempah dan lauk yang disajikan bersama nasi timbel membuat menu tersebut banyak diminati.

    “Ciri khas kami tetap mempertahankan cita rasa autentik Sukabumi. Nasi pulen dibungkus daun pisang, kemudian dilengkapi lauk, sambal, sayur asem dan lalapan,” jelas Aa Roni.

    Kini Nasi Timbel Mang Uha mulai dikenal masyarakat Solo Baru dan sekitarnya. Warung tersebut buka mulai pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB, sehingga bisa menjadi pilihan untuk makan siang maupun makan malam.

    Harga paket makan pun relatif terjangkau, mulai dari Rp25 ribu. Dengan mempertahankan resep dan karakter masakan Sunda, Nasi Timbel Mang Uha mencoba menghadirkan pengalaman kuliner khas Sukabumi di tengah Kota Solo.

    Bagi Mang Uha, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa cita rasa yang lahir dari kenangan masa kecil bisa terus hidup dan menemukan tempat baru, tanpa harus kehilangan identitas aslinya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More