Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rektor Unika Soegijapranata Tolak Beri Pengakuan Kinerja Jokowi

Rektor Unika Soegijapranata Tolak Beri Pengakuan Kinerja Jokowi
Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto saat menggelar konferensi pers di kampusnya. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Semarang, IDN Times - Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto mengatakan tak akan pernah mau memberikan pernyataan dalam bentuk apapun untuk menilai kinerja positif Presiden Jokowi. 

Menurutnya jika ada sesuatu hal yang tidak tepat, maka sudah semestinya disikapi dengan lantang demi azas kebenaran.

"Dan saya obyektif, kami objektif kok. Pada saat acara Dies Natalies ke-40 kami undang bapak presiden. Walaupun beliau tidak datang beliau juga ngirim video yang juga sangat bagus. Maka ketika ada sesuatu yang dirasa kurang pas ya kami harus bersuara, jadi menyuarakan kebenaran itu yang menjadi dasar kami," kata Ferdinan, sapaan akrabnya, di lantai tiga Gedung Mikael Kampus Unika Soegijapranata, Bendan Nduwur Gajahmungkur Semarang, Selasa (6/2/2024).

1. Rektor Unika utamakan nilai-nilai keteladanan Soegijapranata

Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto menunjukkan buku kuning yang berisi falsafah dasar kampusnya. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto menunjukkan buku kuning yang berisi falsafah dasar kampusnya. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Lebih jauh lagi, ia mengungkapkan menyuarakan sebuah kebenaran sudah menjadi kewajiban pihaknya mengingat selama ini kampusnya memakai nama Monsinyur Soegijapranata yang dikenal sebagai pahlawan yang punya motto 100 persen Indonesia 100 persen Katolik.

Dengan mengusung motto 100 persen Indonesia seperti sang uskup agung, katanya setidaknya kampusnya harus meneladani sikap serupa sebagai perwujudan kecintaan bagi bangsa Indonesia. 

"Kemudian kami memakai nama Soegijapranata yang mana 100 persen Indonesia kami ungkapkan sebagai bentuk kecintaan kami kepada negeri ini. Sebab itu saat kami diminta memberikan pernyataan, maka pilihan kami, sikap kami tidak bisa memenuhi permintaan itu. Kenapa, karena kami punya dasar yang kuat," tegasnya.

2. Bertugas menyebarluaskan kebenaran

Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Dr Ferdinandus Hindiarto. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dasar kuat yang dimiliki Unika Soegijapranata ialah mengenai falsafah yang tertuang dalam persatuan universitas Katolik sedunia.

"Yang pertama dalam kongsi kongsi universitas Katolik sedunia dimana di pembukaan sudah dikatakan universitas Katolik mencari, menemukan dan menyebarluaskan kebenaran," terangnya. 

3. Pihak yang mengaku dari kepolisian terus-menerus menghubungi Rektor Unika

Tanda tangan deklarasi menolak kecurangan dan intimidasi pemilu 2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Tanda tangan deklarasi menolak kecurangan dan intimidasi pemilu 2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Kendati demikian, sejumlah pihak yang mengaku dari Polrestabes Semarang tetap bersikukuh menghubungi dirinya meski secara tegas pihaknya sudah meneken pernyataan resmi bersama 26 perguruan tinggi Katolik seJawa Tengah. 

Dari hari Sabtu kemarin sampai detik ini, katanya orang yang mengaku dari Polrestabes Semarang masih ngotot membujuknya agar mau memberikan pernyataan mengenai kinerja Jokowi. 

"Sampai Sabtu kemarin kami buat pernyataan bersama 26 perguruan tinggi Katolik dan dari bersangkutan masih hubungi dan kami masih jawab mohon maaf sekali lagi kami jalankan tugas kami juga jalankan pilihan saya," ungkap doktor bidang psikologi tersebut. 

4. Juga berkali-kali kirim video dan WA untuk bujuk Rektor Unika

Ilustrasi media sosial (pexels.com/Tracy Le Blanc)
Ilustrasi media sosial (pexels.com/Tracy Le Blanc)

Ia juga menegaskan pihak yang mengaku dari Polrestabes Semarang tetap berusaha berkali-kali mengirim contoh video pengakuan para rektor kampus lain agar dirinya terbujuk. Video yang dikirimkan isinya tetap sama. Bahkan ada juga pesan WhatsApp yang dikirimkan pihak Polrestabes. 

"Kalau chatnya berkali-kali memberi contoh video kampus yang lainnya. Beberapa video isinya sama. Barusan WA nan. Beliau kirim dengan beberapa kampus. Nomornya saya tidak memvalidasi apakah dari Polrestabes. Tapi jawaban saya tetap sama. Saya tidak katakan intimidasi. Cuman karena permintaan mereka tidak sesuai yang kami pilih, maka tidak bisa kami penuhi," paparnya. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Riwayat Gombel Lama: Tanah Endapan Lumpur, Sering Ambles Saban Tahun

19 Apr 2026, 21:39 WIBNews