Rowosari Semarang Jadi Wilayah Paling Rawan Krisis Air saat Kemarau

- Rowosari, Tembalang, menjadi wilayah dengan permintaan bantuan air bersih tertinggi di Semarang saat kemarau, karena berada di perbukitan dengan sumber air sumur yang minim.
- Jaringan PDAM sudah menjangkau Rowosari, tetapi tekanan air rendah tidak mampu mencapai sejumlah permukiman di titik tinggi; BPBD menyalurkan dropping air rata-rata sekali sepekan.
- BPBD juga memetakan Meteseh, Mangunharjo, Bulusan, Banyumanik, dan Ngaliyan sebagai wilayah terdampak, namun permintaannya lebih rendah; peta kerawanan dan mitigasi masih mengikuti pola tahun sebelumnya.
Semarang, IDN Times – Musim kemarau mulai memperlihatkan titik rawan baru di Kota Semarang. Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, menjadi wilayah dengan permintaan bantuan air bersih paling tinggi dibandingkan daerah lain yang terdampak kekeringan.
1. Rowosari berada di daerah perbukitan

Ilustrasi droping air bersih .(dok. istimewa) Kondisi geografis menjadi salah satu faktor utama. Wilayah Rowosari yang berada di kawasan perbukitan membuat sumber air warga semakin sulit diandalkan, sementara debit air dari jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak cukup kuat menjangkau sejumlah permukiman.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan Rowosari saat ini menjadi wilayah dengan intensitas permintaan dropping air bersih tertinggi.
“Kalau untuk intensitas permintaan dropping kebutuhan air bersih itu sementara masih di Rowosari, Tembalang. Secara geografis dan sumber air di sana memang sangat minim atau susah air. Air sumur di sana sudah susah,” ujar Endro, Jumat (21/8/2026).
2. Distribusi air tidak optimal

Ilustrasi droping air bersih. (IDN Times/Daruwaskita) Persoalan di Rowosari bukan semata-mata ketiadaan jaringan air perpipaan. Layanan PDAM sebenarnya telah menjangkau kawasan tersebut.
Masalahnya, kontur perbukitan membuat distribusi air tidak optimal. Pada sejumlah RW, debit air yang sampai ke rumah warga sangat kecil karena tekanan air tidak cukup untuk mencapai permukiman di lokasi yang lebih tinggi.
“Jangkauan layanan PDAM sebenarnya sudah masuk ke Rowosari. Hanya saja, untuk beberapa titik RW di sana, debit air PDAM memang sangat kecil karena letaknya di perbukitan. Airnya tidak kuat naik,” kata Endro.
Kondisi itu membuat sebagian warga tetap membutuhkan pasokan air melalui dropping BPBD ketika sumber air lokal tidak lagi mencukupi. Namun, BPBD belum melakukan pengiriman setiap hari. Bantuan air bersih ke Rowosari saat ini diberikan secara berkala dengan frekuensi rata-rata sekitar satu kali dalam sepekan.
3. BPBD petakan wilayah yang terdampak kekeringan

ilustrasi kekeringan (unsplash.com/Bogomil Mihaylov) Selain Rowosari, BPBD memetakan beberapa wilayah lain yang berpotensi terdampak kekeringan. Di antaranya sebagian wilayah Meteseh, Mangunharjo, dan Bulusan.
Kecamatan Banyumanik dan Ngaliyan juga tercatat memiliki permintaan bantuan air bersih. Meski demikian, intensitasnya masih jauh di bawah Rowosari.
“Titik lain ada di sebagian kecil Meteseh, kemudian Mangunharjo dan Bulusan. Tapi relatif permintaannya sedikit jika dibandingkan dengan Rowosari,” ujar Endro.
Dengan kondisi tersebut, BPBD belum melihat adanya pergeseran signifikan peta wilayah rawan kekeringan di Kota Semarang. Pemetaan dan pola mitigasi yang dilakukan masih mengacu pada pola tahun sebelumnya. Hingga kini, belum ada laporan permintaan bantuan air bersih dari kelurahan atau kecamatan baru.
“Sementara mapping kita masih sama, mitigasinya juga masih sama karena belum ada laporan atau permintaan air bersih di wilayah baru. Trennya masih relatif terkendali,” kata Endro.
Meski disebut masih terkendali, tingginya frekuensi dropping di Rowosari menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak sepenuhnya merata. Kontur wilayah dan kemampuan infrastruktur distribusi air menjadi faktor penting yang menentukan seberapa rentan sebuah permukiman menghadapi kekeringan.



















