Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Soal Hantavirus, Dinkes Jateng Waspadai Populasi Tikus Pelabuhan
Seorang petugas memeriksa karcis milik penumpang kapal Pelni di peron dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (IDN Times/Dok Humas Pelni Semarang)
  • Dinas Kesehatan Jawa Tengah menegaskan belum ada kasus positif Hantavirus hingga Mei 2026, namun masyarakat diminta tetap waspada terutama di area dengan populasi tikus tinggi seperti pelabuhan.
  • Hantavirus ditularkan melalui air liur, urine, dan kotoran tikus terinfeksi, dengan gejala awal demam, nyeri perut, bercak merah di mata, hingga risiko gagal ginjal bila terlambat ditangani.
  • Dinkes Jateng mengedukasi 883 puskesmas lewat program Jumat Pintar dan menyiagakan delapan rumah sakit rujukan untuk deteksi dini serta penanganan cepat kasus Hantavirus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengimbau masyarakat agar tidak panik terhadap Hantavirus, namun tetap waspada. Dinkes Jateng mencatat, Januari-Mei 2026, belum ada kasus positif ditemukan di Jateng.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab mengatakan, Hantavirus merupakan zoonosis atau penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut.

“Hantavirus ini merupakan reemerging disease, penyakit yang dulu pernah muncul kemudian muncul kembali. Di Jawa Tengah terakhir dilaporkan pada 2023, dan sampai sekarang belum ada kasus baru,” kata Zulfachmi, Selasa (19/5/2026).

Dia menjelaskan, penularan hantavirus terjadi melalui air liur, urine, dan kotoran tikus yang terinfeksi. Manusia dapat tertular saat bersentuhan langsung dengan media penularan tersebut, atau menghirup partikel yang telah mengering dan terbawa udara.

Menurut Zulfachmi, lokasi dengan populasi tikus tinggi seperti pelabuhan, menjadi area yang perlu diwaspadai. Kasus sebelumnya di Jawa Tengah ditemukan pada wilayah pelabuhan di Kabupaten Demak pada 2023.

Ia bilang, hantavirus umumnya menyerang sistem ginjal dan pernapasan. Gejala awalnya meliputi demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, hingga muncul bercak merah pada selaput mata. Pada kondisi berat, penyakit itu dapat mengakibatkan perdarahan dan gagal ginjal.

“Kalau ada gejala seperti demam, nyeri perut, bercak merah di mata, atau tanda perdarahan, segera periksa ke fasilitas kesehatan, agar tidak jatuh pada stadium gagal ginjal,” ujarnya.

Zulfachmi menyebut, diagnosis hantavirus harus dipastikan melalui pemeriksaan PCR dan serologis di rumah sakit rujukan. Untuk itu, Dinas Kesehatan Jateng telah mengedukasi seluruh fasilitas kesehatan hingga tingkat puskesmas, terkait deteksi dini penyakit tersebut.

Sebagai langkah edukasi, Dinkes Jateng juga akan mengumpulkan 883 puskesmas se-Jawa Tengah dalam program edukasi “Jumat Pintar”, guna memperkuat pemahaman tenaga kesehatan terkait hantavirus.

Selain itu, kini sudah ada delapan rumah sakit milik Pemprov Jateng telah disiagakan untuk penanganan kasus, apabila ditemukan pasien dengan gejala mengarah ke hantavirus. Tiga rumah sakit rujukan utama yakni RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Purwokerto, dan RS Dr Moewardi Surakarta.

Zulfachmi menambahkan, hingga kini belum tersedia vaksin untuk hantavirus. Namun, penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila leboh cepat terdeteksi dan ditangani.

“Semakin cepat dikenali dan diobati, maka angka kematian akan semakin rendah,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, rutin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri saat berada di area dengan banyak tikus, serta menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.

Editorial Team