Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
The Power of Pasutri Gen Z: Meraup Cuan dari Kreasi Bendera Agustusan
Regita Sekar Agisti menunjukan bendera merah putih hasil produksinya yang laris manis dibeli warga Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Fahmi dan Regita, pasutri Gen Z di Semarang, memasuki tahun ketiga memproduksi bendera, umbul-umbul, dan dekorasi Agustusan sebagai kelanjutan usaha keluarga.
  • Setelah penjualan awal sepi, pesanan tahun ini meningkat melalui marketplace, Google Maps, serta promosi langsung ke kampung-kampung dan pengurus RT/RW.
  • Pelanggan dari Semarang hingga Kendal, Demak, dan Jepara memesan dalam jumlah besar; pasangan ini menawarkan produk produksi sendiri dengan strategi harga grosir berbiaya terjangkau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Fahmi dan Regita Sekar Agisti memproduksi serta menjual bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan dekorasi latar perayaan Agustusan. Menjelang Agustus 2026, pesanan mereka meningkat dari kampung, marketplace, mal, dan kantor pemerintahan.
  • Who?
    Fahmi bersama istrinya, Regita Sekar Agisti atau Gita, menjalankan usaha produksi bendera. Pelanggan mereka mencakup warga kampung, pengurus RT/RW, kantor pemerintahan, swalayan, mal, dan pusat bisnis.
  • Where?
    Produksi dilakukan di rumah Fahmi dan Gita di RT 1/RW II Kampung Purwodinatan, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. Pesanan datang dari Semarang, Kendal, Demak, dan terutama Kabupaten Jepara.
  • When?
    Usaha tersebut telah memasuki tahun ketiga pada Selasa, 4 Agustus 2026. Lonjakan pesanan terjadi menjelang perayaan Agustusan, dengan orderan yang saat ini datang tiga hingga empat kali sehari.
  • Why?
    Fahmi meneruskan usaha bendera yang berawal dari ayahnya di Madiun setelah kuliah dan menikah di Semarang. Pasangan ini memanfaatkan tingginya kebutuhan perlengkapan perayaan Agustusan untuk menjalankan usaha.
  • How?
    Mereka menjual melalui marketplace Blibli, tautan Google Maps, dan pemasaran langsung ke kampung-kampung dengan membagikan brosur kepada ketua RT/RW. Produk dibuat sendiri dan dijual grosir mulai Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Fahmi dan Gita di Semarang membuat bendera merah putih dan umbul-umbul untuk Agustusan. Mereka mulai usaha kecil-kecilan dari warisan keluarga. Sekarang pesanan makin banyak dari kampung, kantor, mal, dan kota lain seperti Kendal, Demak, dan Jepara. Mereka jual lewat internet dan keliling membagi brosur. Saat ini mereka sibuk menjahit banyak pesanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ketekunan Fahmi dan Regita menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat tumbuh melalui perpaduan keterampilan produksi, pemanfaatan marketplace, dan pendekatan langsung kepada warga. Dengan menjaga warisan keluarga sambil menawarkan harga yang terjangkau, pasangan ini tidak hanya menghadapi meningkatnya pesanan, tetapi juga menemukan kebanggaan dalam mendukung semarak perayaan Agustusan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Berada di gang sempit Kelurahan Purwodinatan Semarang Tengah, namun siapa sangka penghuni rumah berkelir cokelat tersebut belakangan sedang sibuk.

Saban menjelang perayaan Agustusan, sang penghuni rumah, Fahmi dan istri tercintanya Regita Sekar Agisti tak henti-henti mendapat orderan pembuatan bendera dan umbul-umbul dari pelanggannya.

Orderan yang kerap diterima mereka mulai dari pembuatan bendera merah putih, umbul-umbul bendera kampung hingga aneka pernak-pernik background untuk kebutuhan perayaan Agustusan.

Bagi Fahmi dan istrinya, momen mendekati Agustusan jadi berkah sekaligus anugerah. Selain tetap senantiasa menjaga bisnis warisan leluhur, memproduksi bendera untuk keperluan perayaan Agustusan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Setiap kali menjahit bendera-bendera orderan pelanggannya, semangat nasionalisme jelas terpatri di benak pasangan suami istri (pasutri) tersebut.

Selain itu, menggeluti bisnis bendera Agustusan adalah ladang cuan yang minim pesaing di Ibukota Jateng.

Usahanya ia mulai dari titik nol. Dengan modal cekak ia dan istrinya nekat berjualan bendera dan umbul-umbul Agustusan.

"Ini sudah tahun ketiga saya memproduksi aneka pernak-pernik bendera dan umbul-umbul. Usaha ini awalnya dari bapak yang tinggal di Madiun. Terus habis kuliah dan menikah di Semarang, saya iseng-iseng cek ombak. Mumpung ada kesempatan jualan bendera, jadinya saya lakuin. Tahun pertama masih sepi (peminat), tahun kedua mulai terasa dapat orderan sana sini. Dan tahun ini penjualannya semakin ramai," kata Fahmi saat ditemui di rumahnya, RT 1/RW II Kampung Purwodidatan, Kelurahan Purwodidatan Semarang Tangah, Selasa (4/8/2026).

Awal-awal mereka jualan lewat marketplace. Blibli dipakai sebagai jejaring marketplace-nya untuk mencari ladang rezeki.

Tak berhenti di situ saja, ia juga memasang tautan bisnis benderanya pada akun Google Maps. Dengan cara ini masyarakat kian gampang menemukan jejak bisnisnya dari website. Termasuk mencari kontaknya untuk memesan orderan bendera.

Tapi di balik keuletannya mencari lubang rezeki lewat jejaring medsos, diakuinya bahwa blusukan ke kampung-kampung untuk menyapa warga satu persatu menjadi jurut jitunya dalam memasarkan bendera Agustusan kreasinya.

Sukses menjangkau pelanggan di Kendal hingga Jepara

Dengan usianya baru 28 tahun, Regita alias Gita, istri Fahmi berkata ia tak canggung menyebarkan brosur produk benderanya kepada para ketua RT dan ketua RW. Sebab dari trik itulah, tahun ini bendera Agustusan kreasinya justru digandrungi oleh warga kampung.

"Setiap dapat orderan dari kampung-kampung jumlahnya bisa ribuan. Belum lagi yang memesan dari marketplace dan datang rumah, pas jelang Agustusan kayak gini, jumlah pesanan bisa naik berlipat-lipat," kata Gita.

Orderan yang datang jelang Agustusan mulai dari pelanggan dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, kisaran wilayah Kota Semarang dan yang terbanyak dari Kabupaten Jepara.

Para pelanggannya juga ada yang berasal dari kantor-kantor pemerintahan, pengelola swalayan dan pusat bisnis lainnya. "Banyak pesanan juga dari mal-mal dan kantor-kantor pemerintahan," ujar Gita.

"Warga Semarang cenderungnya dadakan. Sehari sering terjual background 50 pcs. Terus sekarang ini penjualan paling ramai dari pesanan RT RW, dari dinas dinas juga. Orderan bisa 3-4 kali sehari," sambungnya.

Lantaran memproduksi sendiri, maka harga bendera dan aneka umbul-umbul pun jatuhnya murah meriah. Gita kerap menjual grosiran bendera seharga Rp5.000 hingga yang harga termahal ratusan ribu rupiah.

Bisa dibilang strategi yang dijalankan Fahmi dan Gita ini menganut pola bisnis yang disebut high volume low margin.

Mereka tentu meyakini bahwa dengan memakai trik bisnis tersebut semata demi melanggengkan usahanya ditambah lagi supaya bendera Agustusan kreasinya makin digandrungi masyarakat Jawa Tengah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article