Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Cemas Masuk Sekolah Baru? Ini 4 Cara Latih Mentalnya Biar Gak Minder

Anak Cemas Masuk Sekolah Baru? Ini 4 Cara Latih Mentalnya Biar Gak Minder
Siswa dan siswi memulai Tahun Ajaran Baru 2025/2026 dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah. (dok. Kemendikdasmen)
Intinya Sih
  • PPDB 2026 di Jawa Tengah telah selesai, orang tua diminta menyiapkan anak menghadapi sekolah baru yang sering memicu rasa cemas dan minder.
  • Artikel menyarankan empat langkah melatih mental anak: school tour, roleplay perkenalan, validasi emosi, serta penyesuaian rutinitas tidur sebelum hari pertama sekolah.
  • Dengan dukungan empati dan latihan konsisten dari orang tua, anak dapat lebih percaya diri menghadapi lingkungan sekolah baru tanpa stres berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times — Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2026 di Jawa Tengah baru saja usai. Kini, saatnya Ayah dan Bunda bersiap mendampingi buah hati melangkah ke jenjang pendidikan yang baru. Namun, di balik antusiasme membeli seragam dan tas baru, tidak sedikit anak yang justru merasa cemas, takut, hingga mendadak minder.

Memasuki lingkungan baru—baik itu masuk TK, SD, SMP, maupun SMA—bukanlah perkara mudah bagi psikologis anak. Ketakutan tidak mendapatkan teman, asing dengan guru baru, atau bayangan pelajaran yang sulit sering kali membuat mereka stres hingga mogok sekolah.

Sebelum hari pertama masuk sekolah tiba, yuk lakukan 4 cara taktis melatih mental anak agar berani dan percaya diri berikut ini, Lur!

1. Lakukan School Tour atau Orientasi Mandiri

image0 (2).jpeg
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dicanangkan Kemendikdasmen. (dok. Kemendikdasmen)

Rasa cemas berlebihan pada anak sering kali dipicu oleh ketidaktahuan mereka terhadap medan baru (fear of the unknown). Mereka bingung membayangkan seberapa besar sekolahnya, di mana letak kelasnya, atau sejauh apa jarak ke toilet.

Siasati dengan mengajak anak mengunjungi sekolah barunya beberapa hari sebelum masa orientasi resmi dimulai.

Mintalah izin kepada satpam sekolah untuk sekadar berjalan-jalan santai di area lapangan, melihat ruang kelas dari luar, kantin, hingga toilet. Buat kunjungan ini semenyenangkan mungkin. Dengan memiliki gambaran visual, tingkat kecemasan anak akan menurun drastis karena tempat tersebut tidak lagi terasa asing.

2. Simulasikan Cara Berkenalan Lewat Roleplay di Rumah

ilustrasi murid baru (pexels.com/ Pavel Danilyuk)
ilustrasi murid baru (pexels.com/ Pavel Danilyuk)

Bagi anak yang cenderung pemalu atau introver, memulai obrolan dengan orang baru adalah tantangan yang luar biasa berat. Mereka sering kali minder karena bingung harus mengucapkan kalimat apa sebagai pembuka.

Ajarkan keterampilan sosial dasar melalui metode bermain peran (roleplay) yang santai di rumah.

Ayah atau Bunda bisa berpura-pura menjadi teman sebangku atau guru baru si kecil. Latih anak cara tersenyum, melakukan kontak mata yang sopan, menjabat tangan, hingga memperkenalkan nama dengan jelas. Skenariokan juga cara meminjam alat tulis atau mengajak teman jajan bersama ke kantin. Latihan ini akan membangun memori motorik sosial yang membuat anak lebih siap di lapangan.

3. Validasi Perasaan Anak, Jangan Meremehkan Ketakutannya

WhatsApp Image 2025-07-15 at 14.04.35 (1).jpeg
Siswa dan siswi memulai Tahun Ajaran Baru 2025/2026 dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah. (dok. Kemendikdasmen)

Kesalahan fatal yang sering dilakukan orang tua adalah meremehkan rasa takut anak dengan kalimat seperti, "Halah, cuma sekolah baru aja kok takut," atau "Jangan cengeng, dulu Kakakmu berani kok." Kalimat ini justru membuat anak merasa tidak dipahami dan semakin menutup diri.

Terima dan validasi emosi negatif yang sedang dirasakan oleh anak.

Dengarkan keluh kesahnya dengan penuh empati. Peluk anak dan katakan, "Bunda paham kok, masuk ke tempat baru memang bikin deg-degan. Dulu waktu Ayah pertama masuk kerja juga rasanya sama. Tapi nanti kalau sudah lewat beberapa hari, pasti seru deh." Ketika anak merasa didengar dan didukung, mental mereka akan perlahan menguat dengan sendirinya.

4. Sesuaikan Jam Tidur dan Rutinitas Seminggu Sebelum Hari-H

ilustrasi anak tidur
ilustrasi anak tidur (freepik.com/creativaimages)

Kecemasan emosional anak akan bertambah parah jika kondisi fisik mereka kelelahan. Pola tidur yang berantakan selama libur panjang pasca-PPDB bisa menjadi pemicu anak mendadak rungsing dan tantrum di pagi hari pertama sekolah.

Bangun kembali ritme sirkadian tubuh anak setidaknya satu minggu sebelum hari pertama sekolah.

Latih anak untuk tidur lebih awal dan bangun tepat waktu sesuai jam sekolah normal. Libatkan juga anak secara aktif dalam mempersiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, seperti menata buku, memilih kotak bekal, hingga mencoba seragam barunya di depan cermin. Hal ini secara psikologis akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan antusiasme dalam diri anak untuk segera bersekolah.

Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru memang membutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap anak. Dengan kesabaran, validasi, dan latihan mental yang konsisten dari Ayah Bunda, si kecil pasti bisa melewati fase transisi ini dengan penuh percaya diri. Selamat mendampingi anak menyambut tahun ajaran baru, Lur!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More