Semarang, IDN Times - Bisnis lapangan padel mulai merambah kawasan Semarang atas. Durian Padel hadir di Jalan Durian Utara III, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, dengan membidik pasar yang selama ini dinilai belum sepenuhnya terlayani.
Bukan FOMO, Durian Padel Bidik Pasar Semarang Atas hingga Mahasiswa
1. Miliki 3 lapangan untuk bermain
Arena bermain padel yang diresmikan, Minggu (23/8/2026), itu menyasar pelanggan dari kalangan mahasiswa, komunitas, keluarga, hingga penghobi olahraga di kawasan Tembalang dan Banyumanik.
Pemilik Durian Padel, Herrias Yusmawan mengatakan, keputusan membangun fasilitas tersebut berangkat dari pertimbangan sederhana, yakni adanya permintaan yang belum diimbangi ketersediaan lapangan di Semarang atas.
“Di Banyumanik, terutama area Tembalang dan Undip, demand-nya ada, tetapi belum ada yang bisa memenuhi,” katanya di sela peresmian Durian Padel.
Durian Padel memiliki tiga lapangan dan beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 21.00 WIB. Lokasi yang berdekatan dengan kawasan Universitas Diponegoro (Undip) menjadi salah satu pasar utama yang dibidik.
2. Harga sewa lapangan sesuaikan daya beli pasar
Herrias menuturkan, harga sewa lapangan ditetapkan dengan mempertimbangkan daya beli pasar Semarang. Jika tarif lapangan padel di Jakarta telah berada di kisaran Rp250 ribu-Rp300 ribu per jam, harga di Semarang relatif lebih rendah.
Durian Padel untuk sementara mematok tarif di bawah Rp150 ribu per jam. Diskon khusus juga disiapkan bagi mahasiswa, dosen, dan staf Undip serta komunitas tertentu.
Strategi harga tersebut sekaligus menjadi cara Durian Padel memperluas pasar. Sebab, pengelola tidak ingin padel hanya menjadi olahraga yang identik dengan kelompok tertentu.
“Market-nya mahasiswa. Jadi kita harus set harga yang lebih menarik untuk segmen tersebut,” ujarnya.
Respons pasar bahkan sudah terlihat sejak masa soft opening yang berlangsung 1-19 Agustus 2026. Herrias menyebut slot trial lapangan sempat overbook. Peminatnya juga tidak terbatas pada pemain berpengalaman. Ada pengusaha, ibu-ibu, mahasiswa Undip hingga siswa sekolah yang mencoba bermain.
Tantangan berikutnya justru bagaimana mengubah tingginya rasa penasaran tersebut menjadi pelanggan yang terus kembali.
“Yang kita pikirkan bagaimana follow up antusiasme itu sehingga pada saat sudah running mereka tetap berkenan bermain padel dan berkonsumsi di kafe,” terangnya.
3. Tak mau terjebak FOMO
Adapun, di tengah ekspansi bisnis lapangan padel, keberlanjutan menjadi tantangan tersendiri. Herrias menyadari popularitas olahraga ini tidak cukup menjadi jaminan bisnis bertahan panjang. Maka itu, Durian Padel tidak hanya mengandalkan transaksi sewa lapangan. Pengelola ingin membangun komunitas berdasarkan kelompok pemain, mulai dari mahasiswa, ibu-ibu hingga anak-anak.
Menurut Herrias, komunitas menjadi kunci agar pemain tidak sekadar datang, bermain, lalu pulang.
“Kalau cuma datang bermain dan pulang itu cepat bosan. Kalau sudah tergabung di komunitas, mereka akan sering berkumpul. Yang dicari bukan hanya padelnya, tetapi bagaimana bertemu lagi dengan kelompok teman yang cocok,” ujarnya.
Selain komunitas, Durian Padel juga menargetkan kerja sama dengan penyelenggara turnamen untuk mengakomodasi pemain yang ingin menekuni padel secara kompetitif.
Herrias melihat peluang tersebut semakin besar seiring masuknya padel ke agenda olahraga nasional. Menurutnya, padel memiliki dua pasar sekaligus, yakni pemain rekreasional dan mereka yang mengejar prestasi.
“Kalau mau prestasi, wadahnya ada. Kalau sekadar sosialisasi atau saling engage setiap hari, pasarnya juga besar,” katanya.
4. Dari tanah kosong jadi sports and social hub
Sementara itu, Durian Padel dibangun selama sekitar tujuh bulan di atas tanah kosong yang sempat direncanakan untuk pembangunan rumah kos. Namun, meningkatnya antusiasme terhadap padel membuat rencana tersebut berubah.
Herrias yang memiliki latar belakang sebagai bankir dan berpengalaman tinggal di Jakarta selama lima tahun terakhir, melihat peluang pertumbuhan olahraga tersebut di Jawa Tengah. Ia ingin Semarang tidak hanya menjadi kota transit, tetapi juga tempat masyarakat berolahraga dan berkumpul.
Konsep yang ditawarkan pun tidak berhenti pada lapangan. Durian Padel dilengkapi kafe dua lantai dan tribun kecil sehingga pemain maupun pengunjung dapat makan, bekerja, berkumpul, atau menggelar kegiatan sosial seperti arisan dan ulang tahun.
“Kita ingin tempat ini menjadi homey. Bukan hanya bermain padel, tetapi menjadi basecamp, tempat berkumpul, tempat teman-teman merasa betah,” tuturnya.
Kemudian dari sisi fasilitas, Durian Padel mengusung konsep panoramic court. Desain tersebut diklaim memberikan ruang pandang lebih terbuka bagi penonton sekaligus mendukung pemain ketika melakukan wall drill karena pantulan bola lebih leluasa.
Lapangan juga menggunakan karpet yang didatangkan dari Spanyol dan disebut telah memenuhi standar sertifikasi internasional.
Pengelola juga membuka lapangan bagi pemain dari berbagai level. Pemula yang belum bisa bermain dapat mengikuti coaching bersama pelatih, sementara pemain berpengalaman dapat menggunakan lapangan untuk latihan maupun pertandingan.
Curated For You
- Perkembangan Padel di Semarang Pesat, Berpeluang Jadi Sport Tourism07 Jun 2026, 17:05 WIB
- Euforia Turnamen Padel, Warga Semarang Tanding Lawan Artis Gisella11 Jan 2026, 14:40 WIB