Semarang, IDN Times - Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Jawa Tengah mencapai 232 kejadian.
Berdasarkan data Pusdalop BPBD Jawa Tengah, selama Januari-23 Agustus 2026 mengalami peningkatan 700 kali ketimbang kondisi yang sama pada 2025 silam.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan terdapat sepuluh kabupaten/kota yang kerap dilanda karhutla. Antara lain Kabupaten Klaten, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Blora, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Kudus dan Kota Tegal.
"Jumlah kerusakan hutan dan lahan serta bangunan diperkirakan kerugiannya Rp34,4 miliar. Karena dalam kurun bersamaan ada 315 kali kejadian kebakaran gedung dan pemukiman lalu ada 547 kejadian kebakaran," ungkapnya, Senin (24/8/2026).
Lebih jelas lagi dari kerugian puluhan miliar tersebut, kejadian karhutla menimbulkan kerugian mencapai Rp2 miliar, kejadian kebakaran gedung dan pemukiman mencapai Rp32,4 miliar.
Ia menyebut kejadian karhutla hampir saban bulan mengalami lonjakan yang signifikan.
Obyek yang kerap terbakar yakni areal lahan sekitar 72,1 persen, hutan sekitar 24,5 persen dan sisanya kebakaran TPA sebanyak 3,4 persen.
"Dampaknya ada enam orang meninggal, 292 rumah terbakar dan kebakaran 382 bangunan rumah," terangnya.
Selain itu, berdasarkan analisa yang dilakukan Pusdalop BPBD Jateng, karhutla rata-rata ditimbulkan dari aksi pembakaran sampah sekitar 21,76 persen, korsleting listrik sekitar 23,40 persen serta sisanya dari pengaruh kelalaian masyarakat dan kebocoran gas elpiji.
Pihaknya pun mengimbau masyarakat Jawa Tengah jangan lagi membakar hutan dan lahan, tidak membuang putung rokok sembarangan.
"Sebaiknya periksa instalasi listrik secara berkala dan lebih baik menyiapkan Apar," terangnya.
