PLN Indonesia Geothermal akan membuat PLN Indonesia Power lebih fokus pada pengembangan energi panas bumi.. (Dok/Istimewa).
Ia juga menjelaskan luas wilayah kerja panas bumi (WKP) tidak berarti seluruhnya akan digunakan untuk pembangunan. Perkiraan kebutuhan lahan berada di kisaran 0,5 hingga 0,9 hektare per megawatt, sehingga diperkirakan sekitar 40-50 hektare yang nantinya digunakan.
"Yang akan dipakai sebetulnya antara setengah sampai 0,9 hektar per megawatt sehingga perkiraan kami hanya 40 sampai 50 hektar saja," katanya.
Kemudian, Executive Vice President (EVP) Manajemen Panas Bumi (MPB) PT PLN (Persero), John Y.S. Rembet menjelaskan, meskipun izin panas bumi murni berasal dari pemerintah pusat, PLN sebagai pelaksana akan tetap mengikuti seluruh aturan dan mekanisme perizinan yang berlaku di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.
‘’Kami menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui forum awal, agar kami mendapatkan masukan sekaligus persetujuan bersama pemerintah daerah sebelum masuk ke proses perizinan pembebasan lahan,’’ katanya.
Terkait kekhawatiran fase eksplorasi yang disebut berisiko tinggi, John mengklarifikasi bahwa itu adalah risiko bisnis/finansial, bukan risiko bahaya keselamatan bagi masyarakat.
‘’Hal ini justru menunjukkan bahwa pengembang harus sangat berhati-hati dan melakukan studi mendalam untuk menentukan titik bor yang paling optimal,’’ pungkasnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto mengingatkan, bahwa jika Indonesia terus bergantung pada energi fosil, kondisi energi 50 tahun ke depan akan sangat berat bagi anak cucu. Maka itu, potensi energi bersih harus dipikirkan sejak sekarang.
‘’Dalam hal pembangunan energi terbarukan ini harus memperhatikan aspek Environment, Social, and Governance (ESG), yang mencakup mitigasi risiko terhadap lingkungan fisik, sosial, dan budaya,’’ katanya.