Dalam setiap sesi art therapy, peserta diajak melukis apa saja warna, simbol, bentuk yang merepresentasikan isi hati mereka, Senin (18/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Dalam setiap sesi art therapy, peserta diajak melukis apa saja warna, simbol, bentuk yang merepresentasikan isi hati mereka. Tidak ada penilaian benar salah atau bagus tidaknya. Yang terpenting adalah proses pelepasan emosi (emotional release).
Tim inti komunitas ini terdiri dari berbagai latar belakang, Eka Risma (Founder & Art Specialist), Andika Kurniawan Pradana, S.Psi. (Praktisi SDM), Ismiyati Hanum (Designer Grafis), serta Nining (Art Specialist), Yunan, Farraz, Faiz, dan Rafin. Mereka menciptakan suasana hangat, suportif, dan bebas stigma agar peserta merasa aman.
Komunitas Ruang Hidup tidak hanya berhenti di Purwokerto. Mereka aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya UIN Saizu Purwokerto dan Komunitas Growe Wonosobo.
Kolaborasi paling menggugah hati terjadi bersama warga binaan Rutan Kelas IIA Yogyakarta. Karena keterbatasan komunikasi, mereka menggunakan media surat sebagai bentuk terapi. Para warga binaan menulis segala yang terpendam rindu kepada ibu, anak, pasangan, penyesalan, harapan, hingga permintaan maaf.
Risma menyebut banyak di antara mereka yang menangis saat menulis, karena untuk pertama kalinya, mereka memiliki ruang privat untuk mengeluarkan beban batin tanpa takut dihakimi.